Header Ads

Pelapukan (Pengertian, Jenis Pelapukan, Faktor dan Gambar Pelapukan | Pelapukan Fisik, Kimiawi, Biologi)

Pelapukan adalah proses hancurnya batuan pada lapisan litosfer dalam jangka waktu lama. Pelapukan merupakan proses pengelupasan atau penghancuran kulit Bumi oleh tenaga eksogen. Tingkat pelapukan di setiap daerah berbeda-beda tergantung kondisi daerah tersebut. Misalnya, di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sementara itu di daerah subtropis tebal pelapukan hanya beberapa meter. Benda mengalami pelapukan berarti sebagian atau seluruh benda itu telah lapuk. Proses pelapukan tergantung kepada beberapa sebab, misalnya susunan dan bahan pembentuk batuan, temperatur dan cuaca di sekitar batuan, serta kelebatan tumbuhan yang ada di sekitar batuan. Pohon yang telah mati misalnya, setiap hari kena panas matahari, pada malam hari diterpa dinginnya malam dan pada musim hujan tersiram air hujan. Pohon tersebut akhirnya lapuk dan hancur berkeping-keping.
Jenis-Jenis Pelapukan dibagi menjadi tiga yaitu:a. Pelapukan Mekanik / Fisik
      Pelapukan fisik adalah pemecahan batuan besar menjadi lebih kecil tanpa mengubah susunan unsur kimiawinya.Batuan yang  membentuk kulit bumi, tersusun dari berbagai mineral. Tiap mineral memiliki koefisien pemuaian yang berbeda-beda. Artinya ada mineral batuan yang cepat memuai bila kena panas, dan ada mineral batuan yang sulit memuai bila kena panas.
      Mineral batuan yang mudah memuai bila kena panas juga mudah menyusut bila bila mengalami pendinginan. Pada siang hari ketika batuan terkena sinar matahari, mineral yang mudah menyerap panas akan lebih cepat memuai dari pada mineral lain yang sulit menyerap panas. Memuai berarti volumenya bertambah besar. Akibatnya mineral yang volumenya bertambah besar akan mendesak mineral-mineral lain sehingga batuan tersebut akan retak-retak. Pada malam hari suhu udara turun dan batuan mengalami pendinginan sehingga volumenya menyusut (mengecil). Akibatnya batuan mengalami retak-retak.
      Proses ini berlangsung terus menerus setiap hari, sehingga lama kelamaan batuan yang keras, akan retak-retak dan lepas selapis demi selapis, yang dimulai dari bagian luar batuan. Akhirnya batuan yang besar tersebut akan hancur menjadi batu kecil, dan batu kecil akan hancur menjadi kerikil, dan kerikil akan hancur menjadi pasir dan pasir akan hancur menjadi debu-debu yang halus. Proses semacam ini disebut pelapukan mekanik. Pada siang hari, mineral batuan yang berwarna gelap umumnya cepat memuai, volumenya bertambah besar (kelabu hitam), sedang pada malam hari volumenya mengecil (putih). Bila hal ini berlangsung terus menerus maka lama-kelamaan mineral akan retak-retak (hitam tebal), dan akhirnya pecah dan terlepas dari batuan induknya.
Pelapukan fisik dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut.
1. Pelapukan Fisik Karena Perbedaan Temperatur yang Tinggi
     Peristiwa ini terutama terjadi di daerah beriklim kontinental atau gurun. Pada siang hari suhu di daerah gurun bisa mencapai 50°C. Suhu yang tinggi (panas) pada siang hari menyebabkan batuan mengembang. Sebaliknya, pada malam hari batuan menyusut karena suhu udara yang rendah (dingin). Suhu udara yang berubah-ubah bisa terusmenerus akan mengakibatkan permukaan batuan pecah atau retak-retak. Pelapukan yang disebabkan oleh perubahan suhu udara disebut eksfoliasi.

2. Pelapukan Fisik Karena Pembekuan Air di dalam Batuan
    Pada saat hujan sebagian air akan masuk ke dalam batuan. Jika air tersebut membeku, volumenya akan bertambah sehingga menimbulkan tekanan terhadap batuan. Akibatnya, batuan rusak atau pecah-pecah.

3. Pelapukan Fisik Karena Berubahnya Air Garam Menjadi Kristal
      Jika air tanah mengandung garam, pada siang hari air menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam sangat tajam dan mampu merusak batuan. Contohnya adalah pelapukan pada batuan karang di daerah pantai.  

       Di daerah empat musim, pori-pori batuan yang terisi air di musim panas bisa pecah atau retak karena air dalam poripori batuan membeku di musim dingin. Air yang membeku volumenya bertambah besar sehingga batuan menjadi retak atau pecah. Proses yang demikian juga termasuk pelapukan mekanik, perhatikan gambar dibawah ini:
Pelapukan Batuan di Gunung Kidul DIY

b. Pelapukan kimiawi
       Pelapukan kimiawi adalah proses pengikisan batuan sekaligus mengubah susunan kimia dari batuan tersebut. Pelapukan ini tidak hanya mengubah tampilan fisik, tetapi juga mengubah komposisi batuan. Pelapukan batuan juga dapat disebabkan oleh proses kimiawi.  Pelapukan kimiawi disebabkan oleh reaksi kimia. Air, oksigen, dan karbon dioksida adalah unsur utama penyebab
pelapukan kimiawi. Air hujan mempunyai peran besar dalam melarutkan batuan. Ada beberapa jenis pelapukan kimia, yaitu oksidasi, pelarutan dan karbonasi, hidrasi, serta hidrolisis.
Faktor yang berpengaruh terhadap tingkat dan jenis pelapukan adalah iklim, jenis batuan, kegiatan manusia, penutup vegetasi, dan relief. Faktor yang paling berpengaruh adalah iklim dan jenis batuan. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan kimiawi:
1. Iklim
    Unsur iklim yang mempengaruhi pelapukan batuan adalah curah hujan dan temperatur udara. Pelapukan kimia mudah terjadi pada kondisi udara yang hangat dan lembap seperti daerah tropis. Pelapukan kimiawi berlangsung lebih cepat di daerah dengan curah hujan dan temperatur rendah seperti daerah subtropis, subkutub, serta pegunungan.
2. Komposisi Mineral dan Struktur Batuan
    Pelapukan kimiawi dapat dibantu oleh pelarutan dan mineral batuan yang tidak stabil. Batuan yang mempunyai struktur lemah mudah mengalami retak-retak sehingga mempermudah pelapukan. Pada daerah tropik retakan batuan mudah dimasuki air hujan sehingga memudahkan reaksi kimia di dalamnya. Pada daerah dingin batuan yang mempunyai retakan memudahkan pelapukan oleh proses
pembekuan air yang masuk ke dalamnya. Pelapukan kimiawi terjadi di bagian dalam batuan karena air mudah menyusup ke dalamnya melalui batuan. Sementara itu, pelapukan fisik terjadi pada permukaan batuan.
3. Relief

    Relief suatu daerah dapat memengaruhi proses pelapukan. Pada lereng curam tutupan vegetasi dan tanah cenderung berkurang karena erosi. Akibatnya, batuan yang muncul ke permukaan menjadi tidak terlindungi sehingga mudah mengalami pelapukan.
4. Tutupan Vegetasi
    Tutupan vegetasi juga berpengaruh pada proses pelapukan batuan. Di satu sisi tutupan vegetasi melindungi batuan dari pelapukan, tetapi di lain sisi, akar tanaman yang masuk celah-celah batuan menyebabkan pelapukan fisik. Tidak hanya itu, vegetasi yang mati dan membusuk menghasilkan bahan organik yang menyebabkan pelapukan kimia.
5. Kegiatan Manusia
    Kegiatan manusia seperti pertanian, pembangunan industri, pembuatan jalan dan perumahan, serta pembabatan hutan menyebabkan batuan muncul di permukaan tanah sehingga memudahkan pelapukan. 

Contoh: batu yang keras dapat ditembus oleh akar tumbuhtumbuhan, karena tudung akar mengeluarkan zat kimia yang dapat melapukkan batuan.
Stalagtit dan sungai bawah tanah dalam goa kapur (Pancaroba, 1998)
       Contoh lain adalah batu kapur yang retak kemudian disusupi air hujan yang mengandung CO2. Air hujan yang mengandung CO2.. akan melarutkan batu kapur yang dilaluinya. Lama kelamaan retakan batu kapur akan bertambah lebar dan besar sehingga akhirnya terbentuk goa-goa kapur. Larutan kapur yang mengendap dan menempel di langit-langit goa akan membentuk stalagtit dan bila mengendap dan menempel di dasar goa akan membentuk stalagmite, Kadang-kadang dalam goa kapur terdapat sungai bawah tanah. Di Gunung Kidul (DIY) air sungai bawah tanah dijadikan sumber air bersih.

c. Pelapukan Biologi atau Pelapukan Organik
       Pelapukan biologi atau pelapukan organik adalah lapuknya batuan yang disebabkan oleh makhluk hidup, baik oleh tumbuh-tumbuhan, hewan maupun manusia. Akar tumbuh-tumbuhan yang makin membesar dapat menyebabkan retak atau hancurnya batuan menjadi bagianbagian yang lebih kecil. Ujung akar yang mengeluarkan cairan dapat menembus batuan melalui pelapukan kimia. 
Pelapukan Biologi atau Organik
Demikian pula berbagai jenis jamur, lumut, dan bakteri yang melekat pada permukaan batuan Demikian juga berbagai jenis hewan seperti semut, cacing, anai-anai, tikus, dapat membuat lubang pada batuan dan melapukkan batuan.
      Pelapukan organik/biologi disebabkan oleh kegiatan organisme, yaitu tumbuhan, binatang, dan manusia. Pelapukan biologi dapat dibagi menjadi dua berdasarkan prosesnya, yaitu pelapukan biofisik dan biokimia.
1. Pelapukan Biofisik
a. Pelapukan oleh akar tanaman.
    Akar tanaman yang menerobos ke dalam celah atau retakan batuan mengakibatkan batuan menjadi rapuh dan hancur.
b. Pelapukan biofisik oleh binatang seperti cacing tanah dan unggas.
    Binatang tersebut membantu memperlebar dan mengikis retakan batuan serta menyebabkan lapisan batuan di bawah tanah terkorek dan melapuk.
c. Pelapukan
biofisik oleh kegiatan manusia.
    Pembukaan lahan untuk pertanian, pembangunan fisik, dan kegiatan pertambangan adalah contoh tindakan manusia yang menyebabkan batuan di permukaan tanah melapuk.

2. Pelapukan Biokimia
a. Pelapukan biokimia oleh tanaman.
    Asam organis yang berasal dari tanaman mati dan akar tanaman dapat membantu dekomposisi batuan.
b. Pelapukan
biokimia oleh binatang.
    Kotoran dan asam organik dari binatang serta organisme dapat membantu pelapukan batuan secara kimiawi.
c. Pelapukan
biokimia oleh kegiatan manusia.
    Industrialisasi mengakibatkan polusi udara yang pada akhirnya dapat menyebabkan pelapukan kimiawi. Contohya gas SO2 dan NO hasil dari pembakaran bahan bakar fosil dapat larut dalam air hujan. Pelarutan ini menimbulkan hujan asam yang menyebabkan pelapukan kimia.ermukaan tanah melapuk.

Pelapukan termasuk kedalam proses alam oleh tenaga eksogen yang meliputi Erosi dan Sedimentasi.

No comments

Powered by Blogger.